Selasa, 05 Januari 2016

Tahun Baru Di Belgia

Saya gak tau persis bagaimana tradisi tahun baruan di negara-negara lain. Di Indonesia sendiri biasanya acara tahun baru bisa bareng keluarga, tetangga, temen-temen, kolega, dsb. Kayaknya gak ada yang kebakaran jenggot kan kalo kita gak punya planning.. 

Nah, mari membahas gimana sih hebohnya perayaan tahun baru bagi warga Belgia pada umumnya. 

Di Belgia ini rada ribet deh kalo mau menyambut tahun baru. Kalau biasanya Natalan itu dirayainnya bareng keluarga, tahun baru anak-anak yang udah dewasa kayaknya kudu capcus nyari grup sendiri. Dengan kata lain yah ngerayain dengan geng-nya masing-masing. kalau Natalan merupakan waktunya bareng keluarga (ortu, mertua, anak-anak, cucu-cicit, etc), Tahun baru merupakan saatnya happy-happy dan lupa sama keluarga yang berbeda generasi, karna nenek-nenek ama kakek-kakek ngerayain sendiri bareng konco-konconya, bokap-nyokap ngerayain bareng temen-temen seperjuangan mereka, adik-adik dengan yang seumuran mereka, sementara kita yah, kebingungan deh nyari temen seumuran???

Ini adalah kali ke tiga saya merayakan tahun baru di Belgia. Kali pertama dulu, saya dan suami mendaftarkan diri untuk mengikuti pesta perayaan tahun baru yang dikoordinasi oleh salah satu temannya dan kita sudah harus mengkonfirmasi 30 hari sebelum hari H dan dilanjutkan dengan membayar sejumlah uang untuk partisipasi sewa gedung dan makan-minum. Ribet kan??? Pesta perayaan yang kami hadiri saat itu diadakan di sebuah gedung yang mungkin dulunya merupakan gedung perkantoran karna memiliki aula dilengkapi dengan beberapa toilets, dan beberapa ruangan yang bisa dipakai untuk tiduran kalau kita sudah tepar, tapi ya gitu: bantal kasurnya harus bawa sendiri. Well, Acaranya lumayan success, ada dress-codenya segala, saat itu "back to 80s" heeeee (mengenang). 

Tahun baruan yang ke dua yaitu tahun lalu,kita merayakannya dengan beberapa sahabat suami saya dengan berkumpul dan makan malam bersama di rumah salah satu dari mereka dan dilanjutkan dengan hang out bareng di sebuah club. Total kita semua saat itu ada 9 orang. Kita berbagi tugas untuk menyiapkan makanan, dll. Saya dan suami waktu itu kebagian tugas untuk menyiapkan main course, dan yang lainnya ada juga yang bertugas untuk menyiapkan dessert dll. Lumayan seru sih jatoh-jatohnya. 

Tahun baruan kali ini, kita ketar-ketir. Menginjak bulan December, teman-teman dari tahun lalu kayaknya sudah punya planning masing-masing dan kita waktu itu kayaknya kebingungan sendiri. Wadoooh, panic alert pun mulai bersiul-siul, dalam hati: tenang.... berpikir jernih.... zen..... 
"Gimana nih, masa kita cuman berdua tahun baruan? kasian amat kitanya" kata suami saya. 

***TING*** "hehehe, aku kan udah kerja, aku kan udah punya temen, gimana kalau aku yang organize di appartemen kita bareng temen-temen q? banyak temen-temen di luar sana yang kurang beruntung alias senasib dengan kita" Jawab saya ke suami. 

"NO!" kata suami saya. Dia takut lantai kayunya kena noda makanan dll. Dasar maniak!

Oh my God, the answer is No????? iya, saya turutin aja maunya dia. Dia tetep grasak-grusuk nyari temen-temennya biar kita bisa ikutan tahun baruan bareng mereka, tapi sepertinya semua pintu acara tahun baruan sudah tertutup. Tidak ada jawaban positif dari temen-temenya, kita jadi kayak anak ayam kehilangan induk. Horor ngebayangin cuman main liat-liatan doang sama saya di acara taon baruan, dia pun nyerah dan akhirnya memperbolehkan saya mengatur acara tahun baruan di rumah. 

YESS, undangan pun dengan gembira saya sebar, melalui phone call, sms, nge-blabla, dan sukses, pada bilang Iya. Target waktu itu adalah 8 orang total, dan akhirnya kita semua yang hadir ada 9 orang. Last minute organize pun diatur. Ada yang bawa aperitif, makanan pembuka, desert, minuman, dll, dan saya kembali menjadi bintang untuk main coursenya.. Acara makan-minum diselingi dengan beberapa games yang idenya saya dapat dari youtube, and VOILAAA... It was a great Newyear's eve dinner party with my husband and friends.   

Met tahun baru ya temen-temen :) maaf, telat lagi ngucapinnya. 

Doa saya kita bisa tetap sehat dan makin sukses di tahun ini.. Amiiin...


Sabtu, 02 Januari 2016

Natalan di Belgia

Sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat hari Natal bagi temen-temen pembaca yang merayakannya. 

Pernah gak sih di benak teman-teman sekalian bertanya-tanya, gimana yah merasakan hari Natal di Belgia. Bagi temen-temen yang ingin ke Belgia saya kasih bocoran sedikit yah mengenai suasana Natalan di sini berdasarkan pengalaman saya. 

Menurut saya, Natal adalah saat dimana kota ini diubah menjadi kota yang gemerlap, sangat indah dengan semua lampu-lampu, pencahayaan, dan dekorasi-dekorasi unik. 


Di Grand Place / Grotte market atau Centrum di Brussels, ada pertunjukan yang sangat menarik (light show).


Saya tidak ingin mentautkan videonya, karna menurut saya akan jauh lebih indah jika kita melihatnya secara langsung, bukan dari Youtube atau video streaming. Kalau anda berencana datang ke Belgia, jangan sampai ketinggalan deh liat light show ini. Biasanya dimulai pada bulan Desember dan berakhir pada awal bulan Januari. 

Saat kita memasuki bulan Desember setiap kota di Belgia menyulap beberapa bagian dari pusat kota menjadi Christmas market. Christmas market ini biasanya berupa kiosk-kiosk yang menjual berbagai makanan khas Natal dan minuman-minuman penghangat badan. Bukan hanya makanan, mulai dari ornament-ornament Natal sampai pakaian juga dijual di sini. 





Cougnolle : roti yang hanya bisa ditemukan pada musim Natal
dapat dibeli di Christmas market. 


Natal bukan lagi merupakan hal keagamaan, namun bisa dibilang lebih menjadi bagian dari kebudayaan di negara ini. Penduduk asli Belgia merupakan pemegang kepercayaan Katolik, tetapi agama bukanlah hal yang terpenting bagi warga di sini. 

Tanggal 24 Desember atau malam Natal merupakan saat dimana warga Belgia berkumpul dengan keluarga mereka dan mengadakan makan malam bersama. Kebiasaan yang mungkin agak aneh bagi budaya kita adalah mereka saling memberikan kado satu ke lainnya dan saat menerima kado, langsung dibuka di depan semua anggota keluarga yang hadir. Suka atau enggak sama kadonya, yah jadinya harus tetep sok bahagia gitu supaya pemberinya gak kecewa, hehehe...

Walaupun acara makan dan minumnya lagi seru-serunya, kita tetap memperhatikan waktu. Tepat pada pukul 12, langsung deh semua pada heboh-hebohan ngucapin selamat Natal. Saling berpelukan, saling cipika-cipiki, dan tentunya langsung menelpon atau meng-sms anggota keluarga yang tidak dapat hadir. 

Sekali lagi, walaupun sudah agak telat, selamat hari Natal :)





Rabu, 16 September 2015

Undangan makan

Agak berbeda dengan di Indonesia, di Belgia, saat kita diundang untuk berkunjung di rumah salah satu keluarga, kerabat atau teman untuk makan malam atau makan siang, sebaiknya kita memperhatikan perbedaan budaya yang harus kita ikuti. Namanya juga ke rumah orang, jadi ya tata cara kita harus juga disesuaikan dong. Jangan sampe kita berkesan tidak menghargai atau malu-maluin. Berikut adalah beberapa hal dan penjelasan yang saya rasa penting, dan saya harap dapat bermanfaat bagi anda.
  • Tepat waktu
Saat kita diundang misalnya makan malam, biasanya si tuan rumah sudah mengabari kita jauh-jauh hari sebelumnya untuk memastikan apakah kita bisa datang atau tidak dan supaya agenda kita di-book dan di block untuk acara lain. Nah, kalau harinya sudah cocok, biasanya mereka akan kasi tau juga jam berapa kita diundang. Kalau di Indonesia kita lebih senang mengulur-ngulur waktu, sebaiknya demi menghargai sang pengundang, kita belajar untuk lebih tepat waktu. Karena si pengundang tentunya sudah menyiapkan segala sesuatunya sebelum kita datang. Tidak baik dong, kalau kita pada ngaret. Orang Belgia lebih senang jika tamunya tepat waktu. Memang tidak masalah sih kalau telatnya 10-20 menit, tapi kalau telatnya lebih dari itu, namanya keterlaluan.

  • Aperitif 
Nah, ini dia kebiasaan yang kita gak punya di Indonesia. Aperitif. Di Indonesia kalau diundang makan, langsung deh ke menu utama, gak ada basa-basinya. Di Belgia, kita tidak langsung dibuat kaget dengan makanan berat, tapi kita disuguhin dulu dengan minuman pembuka atau "aperitif" dan ditemani dengan makanan-makanan kecil dan ringan. Saat menikmati suguhan "Aperitif" ini biasanya dimanfaatkan sebgai saat agar kita bisa saling bercakap-cakap terutama setelah sudah lama tidak bertemu atau yang baru berkenalan bisa saling bertanya dan mengenal lebih jauh. Aperitif ini biasanya disuguhinnya bukan di ruang makan, melainkan di ruang tamu jadi suasananya bisa lebih akrab, dengan kata lain, sebagai tamu kita diterima dulu di ruang tamu. Ibarat dalam olahraga, aperitif ini seperti pemanasan yaitu untuk perut, dan juga untuk saling bersosial, jadi kita gak langsung berolahraga ke gerakan utama. Makanan dan minuman aperitif biasanya sangat beragam. Untuk minumannya biasanya berupa wine yang rasanya manis, atau softdrink bagi yang tidak minum alkohol. jangan khawatir atau takut bakal disuguhin langsung minumannya, karna tuan rumah biasanya menjelaskan terlebih dahulu apa saja minuman yang mereka punya untuk aperitif dan kita diminta memilih (penting diingat: JANGAN DITOLAK! SILAHKAN PILIH). Sementara untuk makanan ringannya biasanya berupa chips, potongan-potongan keju, sosis, kacang, olive, dll. Sekali lagi saran saya, HARGAILAH si tuan rumah, makanan kecil yang sudah disiapkan ya silahkan dinikmati dan berusaha deh basa-basi dikit. Jangan langsung grasak-grusuk ngebet pengen langsung ke meja makan yah. Tidak sopan! Kan si tuan rumah sudah repot menyiapkan semuanya. Mereka akan merasa sangat dihargai kalau kita bisa mengikuti alur budaya mereka saat diundang. Namanya PENGHINAAN kalau mereka sudah berusaha menyiapkan tapi malah dianggurin. Pengalaman saya: saya pernah mengundang teman orang Indonesia bersama keluarganya untuk makan malam di rumah kami. Suami saya dengan senang hati menyiapkan makanan dan minuman aperitif sebelum mereka tiba. Tapi sayangnya minuman aperitif ditolak mentah-mentah sama mereka, dan beragam makanan kecil yang suami saya sudah capek-capek siapkan juga tidak dimakan sama sekali sama mereka. Bagi suami saya itu benar-benar penghinaan. Saya berusaha menjelaskan ke suami saya kalau mereka tidak mengerti. Para undangan tidak mau makan dengan alasan nanti tidak lapar kalau makan. Dengan kata lain mereka hanya berharap untuk langsung ke menu utama. Itulah pertama dan terakhir kali mereka saya undang ke rumah. hahaha... KAPOK! Suami saya berpendapat, dan ada benarnya, saat kita berusaha menyajikan sesuatu, kita juga menaruh penghargaan kepada orang-orang yang kita undang, dan saat diundang ke rumahnya, berarti orang yang diundang juga sudah berkomitmen untuk menghargai dan mengikuti alur budaya si tuan rumah. 


  • Makan malam
Biasanya sih kalau dirasa sudah jamnya, si tuan rumah akan bertanya apakah si tamu sudah siap untuk makan malam. Dan dengan persetujuan si tamu, si tuan rumah akan menyajikan makan malam selagi hangat. Kadang-kadang kita disajikan makanan entree terlebih dulu sebelum ke menu utama, dan kadang juga langsung ke menu utama. Garpu dan pisau-lah yang biasanya digunakan, bukan sendok dan garpu yah. Saat menikmati makanan utama jangan tergesa-gesa dan sebaiknya jangan makan sampai terlalu kenyang, karna menu utama bukanlah akhir dari acara makan malam. Masih ada dessert alias makanan penutup. Nah kalau anda memang sudah kekenyangan bisa meminta potongan kecil saja atau kalau sudah tidak bisa makan lagi, tidak ada salahnya berterusterang kepada si pengundang kalau anda sudah tidak bisa makan.

Mungkin acara makan siang atau makan malam adalah hal kecil, tapi bukan berarti ini hal sepele. Ini merupakan wadah kita untuk bersosialisasi dan menyesuaikan diri dengan orang yang mengundang kita. Kalau kita ingin dihargai, kita harus juga menghargai orang lain. Dimanapun kita berada, kita harus bisa belajar menghargai dan menyesuaikan diri dengan budaya dimana kita tinggal.


Senin, 07 September 2015

Coklat Belgia

Karna saya saat ini bekerja di salah satu toko coklat ternama, tidak ada salahnya saya menulis sedikit mengenai Belgian Chocolate. Ini adalah beberapa istilah coklat di Belgia yang mungkin akan sering anda temui jika anda berkunjung ke Belgia.

Praline:
Awal saya dibawakan sekotak Belgian Chocolate yang namanya Praline saya pikir Praline itu merek coklat ternama di Belgia. Mungkin banyak teman-teman yang sering mendengar kata Praline dan berpikir sama seperti saya dulu. OKE, informasi pertama: chocolate praline itu bukan merek coklat, tapi merupakan ciri khas Coklat Belgia.

Jadi praline itu apa sih?
Menjawab pertanyaan tersebut: Praline itu sendiri adalah campuran antara hazel-nut dan gula yang digiling halus bersamaan sehingga terbentuk pasta. Nah pasta ini-lah yang sebenarnya disebut Praline. Pasta tersebut kemudian menjadi isi dari beragam coklat sehingga disebut chocolate praline. Jadiiii..., coklat Belgia klasik dan otentik yaitu white, dark atau milk chocolate yang didalamnya berisi pasta praline itu sendiri. Orang Belgia sendiri tidak semua loh mengerti praline itu apa, karna saya bekerja di toko coklat, dan menerima banyak sekali informasi tentang coklat, makanya saya jadi tau dan bisa memberikan informasi kepada anda.


Marsipan:
Selain Praline, anda juga akan menemui yang namanya Marsipan. Sama seperti Praline, Marsipan merupakan pasta yang dijadikan isian coklat. Bedanya, yaitu Praline terbuat dari hazelnut dan gula, sementara marsipan terbuat dari kacang almond dan gula. 

Ganache:
Ganache adalah isian coklat juga, terbuat dari bahan dasar krim dan coklat, dan kadang dicampur dengan bahan lainnya, seperti contohnya orange.

Gianduja:
Gianduja merupakan pasta praline yang dicampur rata dengan coklat (bisa berupa white, dark atau milk chocolate), dan kadang dicampur dengan rasa lain.




Ada banyak sekali toko-toko coklat tradisional di Belgia yang menyediakan coklat-coklat dengan isian-isian yang saya sebutkan di atas. Namun, beragam toko coklat tidak berarti harga coklat menjadi murah di Belgia. Belgian chocolate yang berkualitas tinggi, tetap saja harganya mahal.  Di toko tempat saya bekerja misalnya, harga 100 gram coklat adalah 3,9 Euro yakni kalau dirupiahkan berkisar 58,000 Rupiah. Kenapa bisa mahal yah? ya karena itu tadi, coklatnya berkualitas tinggi.

Ada banyak faktor yang membuat harga coklat berkualitas tinggi begitu mahal. Ada yang bisa tebak kenapa?
Ok, let's skip pertanyaan saya tersebut, dan dengarkan alasan versi saya:
1. Karena bahan dasarnya sendiri berkualitas tinggi jadi modal dasarnya sudah pasti mahal.
2. Coklat istimewa itu bukan buatan mesin, tapi buatan tangan alias hand-made. Menggaji tangan manusia itu jauh lebih mahal dari pada biaya produksi dengan mesin. Apalagi SDM yang dipakai juga berkualitas tinggi, dengan artian para pembuat coklat tersebut harus melewati jenjang pendidikan dan training-training yang juga tidak murah.
3. Biaya pegawai, sewa toko, dan pajak yang tinggi, juga merupakan alasan kenapa harga-harga coklat di Belgia tinggi sekali.

Ini adalah beberapa merek coklat terkenal di Belgia:
-Neuhaus, Merupakan merek coklat praline pertama di Belgia sangat autentik dan berkualitas tinggi
-Pierre Marcolini, berfokus dengan memperkenalkan coklat sebagai penganan mewah
-Bruyerre klasik hand made belgian chocolate dengan harga yang sangat terjangkau
dan merek-merek lain yang terkenal yaitu:
-Leonidas
-Godiva (sudah bisa anda nikmati di berbagai negara)
-Galler (merek coklat ini bukan hanya di toko coklat khusus saja, namun sudah tersedia di banyak supermarket-supermarket di Belgia)

Oh ya, tempat terbaik untuk berburu coklat adalah di Grand Place (city center) atau square, karena di sana anda bisa menemui semua toko coklat terkenal.

Selamat berjalan-jalan dan menikmati Belgian Chocolate, the best chocolate in the world. 


Minggu, 16 Agustus 2015

Hidup di Belgia-fashion

Buat para cewek yang asalnya dari negeri entah-berantah penuh dengan sinar matahari, mungkin akan menemui kesulitan pada awal tinggal di Belgia. Bagi saya sendiri, seperti yang saya ungkapkan di artikel sebelumnya: fashion atau cara berpakaian merupakan salah satu kesulitan yang saya temui awal hidup di Belgia. 

Di negara tropikal seperti di Indonesia, hanya ada dua musim yang bisa kita antisipasi yaitu musim panas dan musim hujan, sementara suhunya sendiri cukup stabil sepanjang tahun: sudah pasti panasnya tidak drastis seperti di negara-negara Timur tengah yang katanya mencapai 50 derajat, dan titik terendah atau terdingin pun jarang sekali kurang dari 20 derajat. Makanya di Indonesia kita gak perlu siapin baju untuk 2 musim. Musim hujan dan musim panas??? hmmm gak penting banget kan? Paling kalau dingin dikit, pakai cardigan juga udah cukup anget, dan kalau hujan, pakai aja payung. 

Nah, sebelum pindah ke Belgia, saya sibuk sekali ngurusin dokumen ini-itu untuk visa, tiket, pernikahan, ijin tinggal, etc. Saya tidak kepikiran kalau di Belgia itu saat musim dingin, dinginnya seperti di dalam kulkas (i am not joking, ada angin-nya pula). Memang saya punya beberapa celana jins panjang, 1 jaket super tebal, beberapa cardigan ala Indonesia, dan juga baju-baju hangat yang cukup untuk menghangatkan pada musim hujan di Indonesia. 
1 (satu) Jaket tebal: angka yang luar biasa salah untuk hidup di Belgia pada musim dingin. 1 (satu) jaket tebal hanya cukup untuk kunjungan 2 minggu paling lama, tapi kalau untuk tinggal, yah, kayaknya merana banget gak pernah ganti jaket pergi ke mana-mana. 

Yah, memang merana saya 2 minggu pertama di Belgia. Dari kepala sampai kaki, persiapan untuk musim dingin benar-benar nol. Gak punya topi atau kupluk buat musim dingin, shal juga adanya yang tipis-tipis aja, jaket tebal cuman ada satu (untung warnanya hitam, jadi mudah dipadu-padankan dengan jins), sepatu-sepatu juga pada gak cocok buat musim dingin, sarung tangan gak punya, stoking dan kaos kaki pun pada ketipisan. Untungnya ibu mertua saya orangnya pengertian sekali, sebelum tiba di Belgia dia sudah menyiapkan beberapa pasang kaos kaki super tebal untuk dirumah, dan karna badannya langsing (langsing-nya orang sini ukurannya M paling tidak, informasi:saya xs) kadang ada beberapa baju hangat yang bisa dia pinjamkan untuk saya beserta perlengkapan-perlengkapan lainnya seperti topi, syal dan sarung tangan. Tidak sampai di situ saja kebaikannya, saya diajak berbelanja dan akhirnya saya terbebas dari rasa merana berbekal 1 jaket tebal. Hasil belanjaan yang luar biasa: Sepatu boot, jaket baru, shall, kupluk, dll. 

Awal-awal berpakaian di sini, saya benar-benar bingung bagaimana menyesuaikan dari mulai atasan sampai bawahan. Tidak heran, ibu mertua saya punya segudang jaket tebal, segudang shal, banyak sekali sepatu (kayak di toko sepatu), tas, dll sehingga mudah untuk dipadu-padankan. Saya jadinya berasa wong deso buanget kalo liat penampilan ibu mertua saya. Orang Belgia pada umumnya lumayan modis loh. Mereka benar-benar memperhatikan penampilan mereka. Jangankan ibu mertua saya, nenek mertua saya aja gayanya keren banget. Kalo pas berdandan semua pada di-metching-metchingin gitu. 

Hal yang saya pelajari bagaimana fashion 4 musim:
  • Musim dingin: kebanyakan baju untuk musim dingin itu lebih baik berwarna gelap, jadi lebih mudah dipadupadankan. Saat membeli topi dan sarung tangan, sebaiknya warnanya disesuaikan. Warna stocking dan shal juga harus diperhatikan, jangan sampai tabrak lari.  
  • Musim semi dan musim gugur: Untuk dua musim ini, temperatur udara kurang lebih sama, tidak sedingin musim dingin, dan tidak sepanas musim panas. Tapi bukan berarti kita bisa mulai berpakaian agak buka-bukaan yah, karna bisa masuk angin. Setidaknya kita sudah bisa mulai mengenakan pakaian dengan warna-warna ceria, karna di musim ini sudah mulai berkurang acara memadu-padankan, kupluk sudah mulai ditinggalkan, sarung tangan tidak lagi diperlukan, jadi otomatis berkurang stres kita untuk berpakaian. Jangan lupa, untuk warna stoking dan shall, sebaiknya tetap diperhatikan biar gak tabrakan warnanya. 
  • Musim panas : ini musim paling mudah buat teman-teman yang dari Indonesia. Kangen sama baju-baju kurang bahan yang dibawa dari Indoensia, yang sudah lama terbungkus rapi di dalem koper karna 3 musim yang tidak memungkinkan? Ini adalah saat yang tepat kita kembali bersinar dengan baju-baju unik dari negeri kita, dan silahkan memberikan ucapan selamat datang kembali kepada hot pants, kaos oblong dan sendal jepit. YAY!
Awal-awal saya bekerja, saya selalu mengintai cara berpakaian para kolega saya. Oh God, mereka modis semua loh. Dan hasil intaian saya berhasil, karna banyak kolega saya akhir-akhir ini memberikan komentar positif mengenai style saya. Mereka bilang mereka senang sekali melihat style saya, dan saya dibilang modis, hahahaha (preeeettt). 

Selamat berakhir pekan ;)

Sabtu, 08 Agustus 2015

ketakutan dan kesulitan yang ditemui awal hidup di Belgia

"Masalah dan kesulitan apa aja sih yang bakal dihadapi saat tinggal di Belgia?"

Ini adalah pertanyaan dan rasa ngeri yang berasal dari hati kecil saya sebelum memutuskan berpindah alamat ke Belgia. Jauh dari ortu dan sanak keluarga sih saya udah gak kaget, karna saya udah nomaden kurang lebih 10 tahun terakhir sebelum ke Belgia ;) Tapi mengingat nomaden kali ini bakal jauh banget jaraknya, dan orang-orangnya bakal berbahasa planet lain semua, tentu saja ada rasa ngeri. 

Demi orang yang saya cinta (cieeee, preeettt) saya bertekad tetap untuk ikut dengan dia. Apalagi saat kita berdua sudah yakin akan hubungan kita, dan sudah direstui dari ortu kedua belah pihak, ya tinggal kita aja yang memutuskan.

Ketakutan bukan saja berasal dari saya, tapi timbul juga di benak tunangan saya yakni suami saya saat ini. Karna dia tau Indonesia benar-benar nyaman. Suhu udaranya hangat, orang-orangnya juga hangat suka nyapa dan murah senyum, saya gampang dapat kerja dengan posisi yang baik, saya tidak perlu blajar bahasa lain, dsb, dia takut kalau nantinya saya gak betah dan minta pulang dari Belgia. Kan tiket dia yang beli, lumayan mahal kalo minta pulang lagi rugi dong dia gak jadi nikah, lol.

Anyway, tidak ada salahnya punya rasa takut, karna kesulitan-kesulitan itu, INDEED, ADA! Kesulitan-kesulitan yang saya temui bukan kesulitan-kesulitan besar memang, tapi justru kecil-kecil itu tapi kalo dikumpulin semua banyak juga, and lumayan reseh. 

Awal saya datang ke Belgia kami tinggal seatap bersama mertua yakni ortu dari suami saya. Sebenarnya tidak ada masalah sama mertua. Mereka sih selalu support dan selalu bersikap positif. Mereka sangat menghargai saya, dan saya belajar banyak dari mereka. Tapi kadang namanya couple kan kita ada brantemnya, dan kedua mertua saya juga sama, walaupun orang tua mereka kan juga couple. Rasanya dingin aja kalo salah satu pasangan lagi konflik. entah itu saya dan suami atau kedua ortunya. Yang resehnya tuh, makan harus sama-sama. Kadang namanya lagi brantem, makan udah gak nafsu, apalagi liat orang yang lagi musuhan di depan makanan, yang ada rasanya pengen banting piring bukannya pengen makan. Yang disajiin kentang pula dan sayur-sayur aneh ditambah daging segede bagong gak benern-bener mateng pula bikin kita kenyang duluan, kebayang kan rasanya? kalo ada nasi uduk dan ayam lalapan sama sambal yang lezat sih mungkin ceritanya beda lagi nih.

Kesulitan komunikasi. Ini juga kesulitan yang sangat terasa khususnya saat awal. Saya dan suami saat ini sudah mulai berkomunikasi dengan Bahasa Prancis walaupun sebagian besar berbahasa Inggris, karna saya orangnya emosian saat diajarin, dan dia orangnya juga gak sabaran. Dia ngomong bahasa prancisnya kadang kayak kreta api, sementara nih ibu kura-kura satu ini udah lamban pake acara nyasar and emosian pula, makanya gak bisa terkejar kalo dia ngobrol atau ngajarin bahasa Prancis full time ke saya. Kesulitan komunikasi ini tentu bukan hanya dengan suami, tapi dengan semua orang di sekeliling kita. Dengan orang tuanya, dengan teman-temannya, keluarga, dan pada akhirnya tanpa suami saya kadang berasa bener-bener kesepian. Untungnya sih di Belgia ini hampir semua rumah ada Wi-fi-nya. Jadi kalau di rumah ya saya kebanyakan autis di depan laptop. Alesannya sih blajar bahasa prancis, padahal blajar bahasa prancisnya 20 menit, Facebook-an sama main game-nya 6 jam, hahahaha. Saya dan kedua mertua saya slalu berlomba-lomba nyari google translate pas ketemu. Bapaknya sih bisa bahasa Inggris. Yang lucunya, kadang dia ngomong bahasa Prancis saya gak ngerti, ditranslate ke bahasa Inggris, saya gak ngerti juga, pas ditranslate lagi ke Bahasa Indonesia lebih ngaco lagi artinya yang dikasih google trasnlate. Kadang saya iya-iyain aja biar kasus ditutup. Pas suami pulang kerja baru deh saya bahas 4 mata dengan dia.

Namanya saya baru, sama semua orang saya berasa harus terus tepe-tepe gitu.. Sekali dua kali sih gak apa-apa, tapi lama-lama, jujur aja, ketemu dan dikenalin sama orang baru terus muak juga. Alhasil, saya ingat sih muka-mukanya, tapi namanya enggak. kalo sama kayak di Bali sih enak yah, ketemu Putu lagi, Komang lagi, Ketut lagi, etc.

Ada lagi kesulitan lain, yaitu fashion. Di Belgia ada 4 musim, jadi fashionnya pun berbeda. saya punya kesulitan untuk memadu padankan pakaian pada musim dingin. Kesulitan yang saya alami juga karna baju saya kan kebanyakan dari Indoensia. Jadi pasti dong kesulitan pada awal-awal tiba di musim dingin. Harus ngeluarin banyak uang buat beli baju musim dingin. Jaket yang saya bawa dari Indonesia 5 lapis pun masih tembus dingin. Kadang dengan keterbatasan baju, stocking, jaket, cara berpakaian saya jadi rada-rada mirip badut dunia fantasi gitu. Gak ada yang brani komentar aja.

Beda bahasa, beda budaya, beda pengertian kadang buat saya dan suami ribut. Emang ributnya gak kayak angin ribut, tapi saking bete-nya saya sempet ancem angkat kopor segala. Percaya apa enggak, saya bukan orang pertama yang ngancem suami dengan siapin koper, semua wanita Indonesia yang saya temui di sini pernah ngasih ancaman yang sama ke pasangan mereka. Jadi, kalau anda termasuk dalam kategori wanita Indonesia, dan berencana ingin tinggal di Belgia, siapin ngalamin hal yang sama yah, gak ada yang ngajarin, itu otomatis kok.

Kalo ada masalah, kadang juga saya home-sick gak jelas, pengen pulang, tapi pengen pulangnya bukan ke rumah ortu, tapi ke kost-kostan saat jaman kuliah dulu di Bogor, aneh kan? trus ngebayangin makan ini lah, itu lah, bakso di abang ini lah, warung ibu ini, sate di abang-abang lewat lah,etc.

Semua masalah itu hanyalah masalah-masalah kecil yang saya alami. Masih banyak lagi masalah-masalah lain yang tidak dapat saya ungkapkan satu per satu. Tapi intinya, jangan khawatir dan menunda kedatangan anda ke Belgia hanya karena rasa takut. Semua masalah itu ada jalan keluarnya kok, dan waktu juga jadi jawaban untuk masalah-masalah tersebut. Sekali lagi bagi yang mau menikah dan akan berpindah ke Belgia, kenali dulu pasangan anda baru putuskan tinggal di sini, itu intinya.

Have a good day ;)




Minggu, 02 Agustus 2015

Liburan 3 hari di Amsterdam

Bekerja selama beberapa bulan, rasanya capek juga.

Setelah melihat jadwal dan tau bahwa saya punya 4 hari libur Sabtu, Minggu, Senin, Selasa: saya dan suami pun girang, bertanya-tanya pengen manfaatin libur ke mana yah..???

Kami pun memutuskan untuk mengunjungi Amterdam pada hari Minggu hingga hari Selasa.

Setelah 2,5 jam duduk di mobil dari Brussels, akhirnya kita sampai juga di Amsterdam. Nah, let's talk about Amsterdam.

Akomodasi:
Kita menginap di sebuah hotel yang tidak terletak di city centre tapi sangat mudah dijangkau dengan kendaraan umum. Karna setelah melihat dan membanding-bandingkan harga kamar, harga hotel yang berada tepat di city center benar-benar selangit dibandingkan yang berada di pinggiran kota. Kita dapat kamar yang bagus, dengan harga super terjangkau, yaitu 155 Euro untuk 2 malam. Saat itu kita gak booking jauh hari sebelum yah, jadi mungkin bisa dapat harga akomodasi lebih murah lagi kalau sudah punya persiapan setidaknya 2 minggu di muka.


Di Amsterdam ada apa aja yaaahhhhh..... dan bisa ngapain aja yah????
Setelah sampai di hotel, otomatis dunk langsung berberes pakean dll, and manfaain langsung deh WiFi gratisan buat liat-liat apa aja yang bisa kita kunjungin di Amsterdam. Hmmm.. Banyak artikel dari internet menyarankan untuk kunjungin musium, Art, blablabla, musium lagi, blablabla, art lagi, blablabla, musium lagi, dst. Setelah berkunjung terakhir kali ke Rome, kayaknya saya udah kekenyangan sama Art & Museum, jadinya kita Skiiiippp yang judulnya Art & Museum di Amsterdam. I wanted something different for my 3 days off trip :p 

Ok, let's forget about Art & Museums, dan mari membahas pengalaman saya di Amsterdam. 

Hari 1 :
Saat kita brangkat dari Brussels, cuaca sangat bersahabat, setibanya kita di hotel di Amsterdam, mulai deh gerimis yang tak diundang turun, dan setelah kita memutuskan untuk keluar dari gerbang hotel untuk mulai menjelajah Amsterdam, langsung deh kita disreang dengan hujan deras dan angin kencang :(
Walaupun cuaca tidak bersahabat, kita tetap girang dan melaju dengan tram menuju ke pusat kota Amsterdam. setelah tiba, saya pun harus berjuang menjaga payung saya tetap utuh dengan kerasnya angin.. Dalam hati: Really? what the heck is going on with this weather!! tapi wajah tetap tersenyum buat suami, biar gak BT aja.. 

  • Bunga Tulip: Amsterdam, atau Belanda pada umumnya sangat terkenal dengan bunga Tulip. Saat kita berkunjung, mungkin bukan musimnya, jadi kita gak liat tuh ada bunga tulip beneran, cuman tulip-tulipan aja, dan berbagai macam bibit pohon tulip. Ada banyak toko-toko kecil yang menjual bunga tulip dan beraneka ragam bunga lainnya.  
  • Keju : Setelah puyeng liat tulip-tulipan dan bibit-bibitnya, kami pun mengunjungi toko Keju. Kita ditawarkan untuk mencoba berbagai keju dengan rasa yang berbeda. hmmm, yummie, dan akhrinya, terganggu deh kocek karna termakan rayuan penjual keju. 
  • Red Stop Street : Tidak jauh dari deretan Toko Tulip dan Keju, ada sebuah area yang menarik hati, tapi juga berbahaya untuk para suami yang matanya jelalatan, hahahaha.. "Red Stop Street" pada dasarnya adalah area prostitusi di kota itu. Pada umumnya yang kita tau namanya tempat prostitusi biasanya remang-remang dan tertutup, tapi tempat ini benar-benar berbeda karena para prostite-nya dipamerkan di ruangan kaca dengan hampir tanpa busana sehingga setiap orang yang lewat bisa menikmati keindahan tubuh mereka. OMG, kebayang kan, hehehe... Di daerah ini juga banyak sekali toko-toko yang menjual alat-alat sex (sex-shop) dengan benda-benda aneh yang bikin saya bertanya-tanya, ketawa, ketakutan, dan ketawa lagi, hahahaha, Pokoknya aneh-aneh banget..
  • Burger King.. Laper dunk setelah jalan-jalan, daaaannnnnn YAY, di Amsterdam ternyata ada Burger King, setelah sekian lama akhirnya kita bisa ketemu lagi sama Burger King. Di Belgium mungkin ada tapi kita gak tau aja di mana tempatnya. 
  • Berjalan-jalan di sekitar Kanal. Jalan-jalan yang melelahkan saat itu, karna suhu yang dingin ditemani hujan deras dan angin kencang. Saya gak bisa deh nyanyi sepanjang jalan kenangan sambil bergandeng tangan dengan suami saking sibuknya megangin payung and setengah lari melawan angin. 
  • Coffee shop: Di sepanjang Kanal dan di City centre, banyak sekali ada plang Coffee Shop. Saya pun diajak suami masuk ke salah satu Coffee Shop untuk mencari tau apa isinya. Coffee Shop di Amsterdam tidak hanya menjual secangkir coffee yah, tapi ganja. Di Amsterdam sendiri, ganja bukan barang terlarang, jadi banyak dijual bebas di mana-mana. Bukan hanya dicampur dengan tembakau dan dihisap seperti rokok, ganja di Amsterdam dikemas dan disajikan dengan berbagai makanan atau minuman. Ada permen lolly-pop, biskuit, kue Brownis (disebut space cake), ada teh, dll.
Hari ke 2

  • Shoping: Banyak toko-toko yang menarik di city center. Saat itu karna cuacanya dingin, saya banyak masuk dari satu toko ke toko lain dan menghabiskan waktu untuk berbelanja. Isi dompet pun terganggu lagi deh karna banyak tanda discount mana-mana. Kebetulan saat itu juga saya salah kostum, karna kita tidak persiapan untuk cuaca dingin seperti itu. Saya berbekal pakaian tipis-tipis seperti mau ke pantai Kuta, ternyata dinginnya minta ampyun, dan saya terpaksa harus membeli beberapa baju hangat untuk cuaca buruk saat itu.
  • Wisata kuliner: Di Amsterdam banyak restoran Indonesia... Waaah, kenyang saya makan masakan Indonesia di sana. :)
  • Night Out: Saya dan suami berdandan berpakaian rapih dan hang out dunk di Amsterdam, setelah sekian lama menjalankan aktivitas, kerja-rumah-kerja-rumah, i think we deserve some ajojing-ajojing lah.. lumayan seru, kebanyakan club di sana gratis tanpa tiket masuk lho..

Hari ke 3
  • Breafast: Menurut saya, di Amsterdam patisserie-nya tidak jauh berbeda dengan daerah-daerah lain di Eropa pada umumnya. Roti-rotian, croissant, cup of cappucino, latte, etc. Biasa aja. 
  • Berburu bumbu Indonesia di Amsterdam. Saya denger-denger banyak toko-toko yang menyediakan bumbu dan rempah-rempah khas Indonesia. Karna tidak memiliki banyaak waktu, saya pun browsing seadanya di internet, dan menemukan Beberapa toko yang disarankan di Jalan: Albert Cuypstraat. Setelah melawan hujan angin tiba di sana, ternyata sangat mengecewakan. Memang banyak sekali rempah-rempah, tapi lebih ke Indian food gitu. Dengan kecewa, kami pun pulang, dan untungnya mampir di sebuah Indonesian Restaurant yang membuat hati saya kembali damai :)

3 hari yang tak terencanakan dengan matang, dengan cuaca yang tidak mendukung, tapi yah, skarang saya jadi tau sedikit dan bisa berbagi pengalaman mengenai Amsterdam.