Minggu, 19 Juli 2015

Puasa dan Lebaran di Belgia

Setelah 1 bulan ramadhan, akhirnya datang juga lebaran Idul Fitri, YAY!!!

Seneng banged bisa bermaaf-maafan, saling bersilaturahmi dengan para sahabat, kerabat dan keluarga, sambil ditemani oleh ketupat dan opor ayam, hmmmmmmmm...... Ngebayangin, n ngarep nih ceritanya.. Itu yang terjadi di Indonesia yah, bukan di sini.. :(

Saya sendiri bukan seorang muslim, tapi kadang kangen juga suasana bulan puasa  dan Lebaran di Indonesia. Kangen dengan jajanan-jajanan khas dan suasana unik selagi bulan puasa, dan semua masakan ciri khas yang berlimpah di mana-mana saat lebaran.

Di tempat kerja saya saat ini di Belgia ada beberapa pegawai muslim yang walaupun berat, tetap menjalankan ibadah puasa. Saya kagum sama ketaatan mereka menjalankan ibadahnya :)

Berbeda dengan Indonesia yang lokasinya tidak jauh dari khatulistiwa, sehingga waktu terbit dan terbenamnya matahari kurang lebih sama setiap hari, menjalankan ibadah puasa di sini jauh lebih panjang. Memang karna kebetulan waktu puasanya jatuh pada musim panas, yang membuat siang menjadi lebih panjang dari pada malam. Matahari terbit lebih pagi, dan terbenam sekitar jam 10 malam. Kebayang kan, beratnya. kalau cuacanya tidak begitu panas sih gak apa-apa, tapi kalo panas terik dan puasanya bener-bener panjang..? Lebih berat lagi buat rekan-rekan kerja saya yang pekerjaanya berhadapan dengan makanan, jadinya tergiur deh dengan segala jenis makanan dan minuman.

Anyway, gimana yah rasanya Idul Fitri atau lebaran di Belgia? Jawabannya: aneh.
Suasana yang ramai, terdengar lantunan doa dari Masjid, hampir tidak terdengar di sini. Belgia sendiri memiliki banyak penganut Muslim di Ibu kotanya, yaitu kebanyakan orang yang berasal dari Turki, Maroko dll, dan bahkan tempat tinggal saya dikelilingi oleh mayoritas keturunan Turki. Tapi lebaran seprti tidak terjadi apa-apa :(

Jadi intinya, suasana yang biasanya kita lihat di Indonesiat tidak ada di sini. Mungkin ada di kantor Kedutaan Indonesia di Belgia. Saya sendiri belum pernah berkunjung di kedutaan saat hari lebaran.
Jadi ya itu, suasana di sekitar kita biasa aja. Beberapa teman muslim saya merayakannya bersama keluarga kecil mereka, dan saya tidak tau banyak apa aja yang mereka lakukan dan bagaimana mereka merayakan Lebaran.

Anyway, Selamat hari Lebaran, Mohon maaf lahir dan Batin.. :)

Kamis, 09 Juli 2015

Kerja di Brussels

Seperti halnya di ibu kota- ibu kota lainnya, mencari kerja di Brussels bukanlah hal mudah. 

Setelah mengirim puluhan surat lamaran dan CV ke berbagai perusahaan, saya menerima total 4 panggilan interview dari perusahaan yang berbeda. Jangan bayangkan 4 panggilan interview tersebut dalam jangka waktu yang berdekatan yah. Itu semua dalam jangka waktu lebih dari 6 bulan. 


1) Interview pertama saya dengan toko daging. Pemilik tokonya berasal dari Ireland jadi otomatis bahasa yang diperlukan adalah bahasa Inggris dengan aksen yang susah dicerna oleh otak saya. Setelah interview, saya diberi kesempatan untuk masa percobaan 3 hari. karna kita bekerja di toko daging, yah, pulang kerja baunya udah macem-macem. 3 hari kerja yang benar-benar melelahkan. Tapi untuk ketiga hari tersebut, semuanya dibayar oleh perusahaan. Setelah masa percobaan berakhir, mereka berjanji untuk memberi kabar dalam waktu 2 minggu. Setelah 2 minggu berlalu saya pun menelpon untuk menanyakan kabar, dan sayangnya mereka menjawab bahwa saya tidak diterima bekerja di sana. 

2) Sebulan kemudian, saya menerima panggilan interview dari sebuah restoran. Setelah 5 menit interview, karena keterbatasan bahasa Prancis, mereka berkata: NO!! straight in my face. 

Sambil terus mencoba, saya pun akhirnya mengisi waktu luang saya untuk meneruskan kursus bahasa Prancis.

3) Setelah kurang lebih 4 bulan mengikuti kursus, saya menerima panggilan interview dari sebuah toko coklat, dan hasilnya mereka memberi kesempatan untuk percobaan. Seperti apa percobaannya? Saya diberikan kesempatan 2 jam, disuruh ke toko langsung, berkenalan dengan semua pegawai yang ada, kemudia mereka memberikan informasi secara global tentang produk2 yang dijual, setelah itu langsung deh coba mulai berinteraksi dengan customer. Selang beberapa waktu, pihak perusahaan dengan sengaja mengirim secret customer untuk mengetest saya. 2 jam berlalu, si Manager pun memberi tau bahwa waktu percobaan sudah berakhir, jadi saya bisa langsung capcus kapan pun saya mau. 

Dag-dig-dug, pagi hari saya langsung menelfon bagian HRD menanyakan bagaimana hasil percobaan saya, dan ternyata mereka happy dengan cara saya berinteraksi dengan customer, dan sayapun diberikan kesempatan untuk bekerja masa percobaan selama 3 minggu, dan kemudian setelah 3 minggu saya ditawarkan kerja tetap. Sayangnya setelah 3 minggu tersebut saya akan segera berlibur ke Indonesia dan tiket pulang pergi sudah dibeli untuk perjalanan satu bulan. Saya pun berterus terang tentang keberangkatan saya ke Indonesia, pihak perusahaan pun mengerti dan mereka menawarkan saya untuk kembali bekerja sepulangnya berlibur dan bisa menandatangani kontrak kerja tetap bersama perusahaan.


4) Selang dua minggu percobaan di toko coklat, saya menerima panggilan kerja dari sebuah hotel, tapi saya kemudian berterus terang bahwa saya sedang bekerja masa percobaan untuk sebuah toko. Saya disuruh memilih, dan karena saya tau bahwa toko coklat tersebut akan menerima saya bekerja kembali, saya memilih untuk tidak menerima tawaran kerja dari hotel.


Sampai skarang saya sangat senang bisa bekerja di toko coklat, di Grand place (square) dimana merupakan pusat dari Brussels, Pusat dari Belgia, dan Ibu kota Uni-Eropa :)

Kalau main ke Brussels, jangan lupa ya mengunjungi toko coklat tempa saya bekerja, saya senang banget bisa ketemu orang-orang Indonesia dan berbahasa Indonesia sepuasnya. 

Jumat, 20 Maret 2015

Tips Berkunjung ke Brussels

Kalau ada yang berencana datang ke Brussels untuk jalan-jalan, pasti deh bertanya-tanya: di Burssels ada apa aja yah?

Brussels merupakan ibu kota Belgia, dan merupakan center of Europe, makanya Brussels dijadikan ibukota Uni-Eropa.

Menurut saya, Brussels lumayan menarik untuk jadi tempat perhentian untuk jalan-jalan. Pusat kota yang kecil memungkinkan kita untuk berkunjung dalam waktu sehari. Transportasi umum juga gak mahal.

Anyway, Ini dia aktivitas yang saya sarankan bila anda ke Brussels:

  • Grand Place
Grand Place adalah pusat kota, mungkin lebih tepatnya square. Arsitektur dari bangunan yang mengelilingin square ini benar-benar indah dan mengagumkan. Grand Place menurut saya sangat indah pada siang hari, dan pada malam haripun tidak kalah dengan pencahayaan yang menarik.

  • Mengunjungi Mannekenpis: 
Ini dia patung unik yang sering bikin orang terkaget-kaget. Biasanya orang pada exciting untuk lihat patung ini, tapi setelah tiba di lokasi, semua orang pasti punya impression: "What the heck"... Bukan karna bentuknya, tapi karna ukuran mini si Mannekenpis. Tapi ya lebih baik pernah lihat patung ini dari pada enggak sama sekali karna di mana-mana orang membicarakan patung ini. Walaupun kecil, patung ini dikunjungi ribuan orang setiap hari loh. Patung Mannekenpis ini terkenal karena legenda dibalik patung ini. Konon katanya si Bocah mannekenpis ini menyelamatkan kota dengan pipisnya (hehehehe, lucu juga yah???)


  • Makan Waffle
Di Belgia, salah satu jajanan yang menjadi ciri khas adalah waffle. Ada yang nature, ada yang pakai buah dan krim, ada yang pakai ice-cream, dsb. Waffle tidak susah didapatkan. Saat jalan-jalan di pusat kota, anda bisa menemukannya di toko-toko khusus. Belgium Waffle agak berbeda dengan Waffle dari Holand. Di Belgia Waffle-nya lebih tebal dan teksturnya jadi mirip kayak cake. 

  • Belgium Chocolate dan teman2nya
Menurut orang Belgia, Belgian chocolate is the best in the world... Menurut anda bagaimana? Cobain dulu deh baru kasi comment. Belgia terkenal dengan Praline-chocolate. Praline itu apa yah? Praline itu campuran, hazelnut dan gula yang dijadikan pasta. Praline-chocolate sendiri ada banyak macamnya. Intinya, pralinne coklat itu luarnya coklat dan dalamnya praline paste. Ada juga yang namanya Marspain: yang dibuat dari adonan almond, lumayan enak juga lho. Terus, jangan lupa juga cobain yang namanya Macaron. Macaron itu tekstur-nya antara cake dan cookies. Biasanya Macaron disediakan dengan berbagai rasa dan warna. Hmmmmm, jadi laper pagi-pagi ngomongin makanan. 

  • Beeeerrrr.... 
Bagi anda yang bisa atau boleh minum alkohol, cobain deh bir di Belgia. Bagi yang gak suka sama rasanya bir, jangan khawatir, karna di Belgia ada bir dengan berbagai macam rasa: coklat, vanila, berbagai macam buah-buahan, dll. Coba aja kunjungin cafe Delirium. Salah satu cafe yang menjual ribuan beer dari dalam dan luar negeri (good news is: Bir Bintang juga ada lho di sana). Belgia sendiri gosipnya memiliki lebih dari 1000 jenis atau merek bir. Aneh yah, penduduk belgia aja kalah dari jumlah penduduk Jakarta, gimana ceritanya tuh? Ada salah satu beer yang paling terkenal di Belgia dan beberapa kali menjadi pemenang the best beer in the world. "Westvleteren" Beer ini tidak gampang didapat karna diproduksi oleh para biarawan Katolik dengan jumlah yang terbatas setiap tahun. Jumlah alkohol dari bir ini lumayan tinggi, yaitu 8% dan 12%. Selain Westvleteren, ada juga beberapa beer trapist, yaitu beer yang diproduksi oleh para biarawan yang bisa didapatkan dengan lebih mudah karena quantity produksi-nya lebih tinggi. 


  • Atomium, 
Saya sendiri belum pernah masuk ke dalam bangunan Atomium. Cuman mengunjungi dan berjalan2 di sekitar atomium sih udah beberapa kali. Atomium adalah bangunan artistic, dengan beberapa bulatan  metal dimana didalamnya merupakan ruangan yang bisa diakses untuk menikmati pemandangan panoramic. Atomium ini Bisa dibilang menara Eivel-nya orang Belgia deh, ketinggiannya mencapai 102 meter dan setiap bola raksasa terbuat dari stainless still dengan diameter 18meter. Di sekitar Atomium ada banyak taman yang bisa dijadikan tempat jalan-jalan.


  • Mini Europe
Tidak jauh dari Atomium, ada juga mini Europe. Kalo gak sempat keliling Europe, silahkan langsung ke mini Europe. Semua bangunan yang ditiru benar-benar dihargai ukuran perbandingannya, dan detail-detailnya.


Itu beberapa suggestion saya untuk activity dan tempat2 yang menarik untuk dikunjungin. Semoga bermanfaat, selamat jalan2 bagi yang berkunjung di Belgia.












Selasa, 23 Desember 2014

Dari Ath, Pindah ke Brussels (Ibu kota)

Setelah 10 bulan lamanya dengan suami berdiam di bawah atap mertua, kita pun memutuskan untuk pindah ke Brussels. Kita tinggal di Brussels sejak September lalu, jadi ya sudah sekitar 3 bulanan.

Brussels Ibu kota Belgia, di mana penduduknya benar-benar gado-gado. Penduduk aslinya Belgia sendiri malah enggak banyak keliatan di pusat kotanya. Banyak orang Inggris, orang Irlandia, India, Asian (China, Indonesia, Thailand, Filipin, dll), Afrika, Maroko, Turki, dsb. 

Kalo anda dari Jakarta, udah gak kaget kayaknya datang ke Brussels, karna di sini juga banyak pengemis, pengamen, dll.. Pengemisnya sih gaya nya sama, tapi pengamen di sini gayanya agak kerenan dikit. Bukan berarti di Jakarta gak ada yang keren yah... Tapi pengamen-pengamen di sini enggak asal, karna mereka dikerumunin banyak orang. Mereka biasanya diam di tempat di satu spot, nyanyi ato main musik, dan tiap orang yang lewat kalo seneng ya silahkan cemplungin koin di topi atau kotak yang sudah mereka sediakan. Mereka bukan asal ngamen, tapi benar-benar menunjukkan talenta mereka, dengan ya itu tadi, nyanyi, ato main musik, atau dance, dll.. Inget-inget saat di Jakarta, kayaknya dulu orang bisu aja bisa ngamen: mangab-mangab sambil ngocok-ngocok botol aqua yang isinya beras, orang jadinya pada ngasih koin biar diem aja segera dengan botol aqua. (maaf saya tidak bermaksud untuk diskriminasi atau melecehkan, tapi hanya sekedar untuk memberi gambaran nyata).

Di Brussels, dunia persaingan semakin ketat. Karna Brussels itu sendiri berada di tengah-tengah Eropa. Untuk kerja di Brussels itu benar-benar enggak gampang. Saking multi cultural-nya, kalau mau ngelamar kerja di kebanyakan perusahaan, mereka mintanya trilingual (Inggris, Prancis, Belanda), lha saya juga trilingual: Indonesian, Ambonese, dan Inggris ok lah (LOL).. Lah, Prancis saya masih kayak anak SD, baca tulis aja belom becus and ngomong pun masih ngab-ngab, ditambah lagi bahasa Belanda, rasa-rasanya pengen ambil koper n balik ke Indonesia. 

Enaknya di Brussels, setidaknya orang-orangnya masih banyak yang bisa berbahasa Inggris. Bagi anda pendatang, kalau mau ke daerah orang-orang berbahasa Prancis tapi gak bisa bahasa Prancis sepatah kata pun, SAYA INGATKAN jangan lupa aktivin GPS dan google translate atau google deh untuk cari informasi, karna mereka rata2 gak bisa bahasa Inggris. 

Di Brussels pun saya semakin dekat dengan Asian supermarket, dimana saya bisa membeli sayur kangkung, sawi, pokcoy, Indomie, dll... Harganya ya udah pasti beda sama di Indonesia. Kangkung di sini seikatnya hampir 6 Euro, kalo dirupiahkan ya sekitar 80 ribu, jadi saya tidak setiap hari makan sayur-sayuran Indonesia tentunya, kalo tiap hari, suami saya dijamin bangkrut dan kita tinggal di kolong jembatan, LOL...

Dengan pindah ke Brussels, saya juga lebih dekat dengan komunitas orang indonesia dan international. Ada banyak komunitas orang-orang Indonesia, tapi saya memilih komunitas kecil aja, supaya gak ruwet..

Anyway, Brussels adalah kota yang unik dan menarik untuk dikunjungi maupun untuk tinggal atau menetap.

Kamis, 09 Oktober 2014

Tinggal bersama Mertua di Belgia

Mungkin ada yang bertanya-tanya, gimana ya rasanya tinggal bersama mertua yang berbeda kewarganegaraan yang totally berbeda kebudayaannya dari kita.

Dari pengalaman saya, awal-awal sih agak ribet, bukan karena sulit, tapi saya sendiri yang selalu sungkan dan setres sendiri karna too much think.

Sama seperti Bapak mertua, Ibu mertua saya orangnya simple, pekerja keras, dan saya dianggap seperti anak sendiri. Ibu mertua saya hobinya ngumpulin sepatu, tas, dan baju-baju bermerek, dan saya senang dengan cara dia berdandan yang not too much, tapi keliatan fashionable. Saya kadang berasa mati gaya specially dengan empat musim yang berbeda. Dalam kehidupan berkeluarga Ibu mertua saya berusaha menanamkan dalam benak saya bahwa wanita harus selalu menghargai suaminya dan wajib dihargai dan dilindungi suami, jadi dia suruh saya berjanji, kalau saya tidak diperlakukan dengan baik sama anaknya, saya harus cepat lapor ke dia biar dia yang berurusan langsung sama anaknya sendiri.

Saya berasal dari keluarga yang sederhana di Indonesia, jadi saya sadar diri, kalau tinggal sama orang lain ya kita harus rajin-rajin membantu. Dengan sifat tepa seliro yang saya bawa dari Indonesia, jadinya saya benar-benar disayang sama bapak mertua. Kadang kalo saya ngambek sama suami saya malah dibelain satu keluarga, sampe omanya ikut-ikutan ngomelin suami saya, hehehe.

Anyway, 10 bulan sudah saya dan suami tinggal dengan kedua orang tua mertua saya, dan semuanya berjalan dengan baik, saya merasa dihargai dan disayangi seperti keluarga sendiri. Masalah kebudayaan, sepertinya bukan a big deal bagi saya ataupun mereka. Saya seneng banget karena mereka juga seneng dengan masakan Indonesia, jadinya setiap minggu saya masak dan ngajak semua makan nasi ditemani lauk-pauk Indonesia.

Saat saya tinggal dengan keluarga suami, dari situlah saya mengerti lebih jelas mengenai sifat dan karakter suami saya. Ada beberapa perbedaan yang saya dapati dari kedua mertua saya di Belgia kalau dibandingkan keluarga-keluarga di Indonesia:

  1. Mereka lebih expressif, lebih mudah bilang terimakasih, maaf, pas bangun tidur langsung disapa dan ditanyain gimana tidurnya, diberi air-kissed, etc. 
  2. Soal agama mereka tidak begitu serius, walaupun ada juga beberapa keluarga yang agamanya kuat banget, tapi hal itu tidak terlalu ditekankan ke anak mereka.
  3. Minum bir itu udah biasa banget bagi mereka, kayak minum cocacola aja untuk orang Indonesia pada umumnya. 
  4. Rasa sayang ke hewan peliharaan hampir mirip kayak rasa sayang ke keluarga sendiri. (i found this one really funny)
  5. Hak wanita pada umumnya sama dengan pria. Jadi suami istri di sini benar-benar bagi tugas, gak ada yang namanya istri yang harus masak dan bersih-bersih, tapi dibagi tugasnya dengan suami secara adil. 
  6. Mereka seneng banget hadiahin bunga ke wanita. Kalo pas hari Ibu, atau ultah, bagi wanita, siap-siap aja kebanjiran bunga. 
Masih banyak lagi sih perbedaan-perbedaan yang saya temui, tapi belum kepikiran, apa lagi yahhhh???

 :)

Selasa, 09 September 2014

Menikah di Belgia dengan visa Schengen

Melanjutkan tulisan saya sebelumnya, saya ingin berbagi mengenai proses pengurusan pernikahan saya dan suami.

Seperti yang saya tulis sebelumnya, saat itu kami ada di Bali. Saya sedang tinggal dan bekerja di sana, sementara suami saya yang saat itu masih berstatus pacar berlibur paaaaanjaaaaaaang di Bali (liburan satu tahun) jadi statusnya dia saat itu unemployment alias pengangguran karna keasikan liburan.

Bagian dari syarat utama pengurusan visa tunangan ke Belgia adalah, salah satu dari pasangan memiliki pekerjaan tetap dan menetap di Belgia dan harus dibuktikan lewat slip gaji selama 3 bulan dan  bukti residensi yaitu bukti pembayaran tagihan apartment/flat selama 3 bulan atau kepemilikan properti. Mengingat pacar saya berlibur paaaanjaaaaang, dia tidak mampu untuk memberikan bukti pekerjaan ataupun tempat tinggal tetap di Belgia. Yang ada hanya nota-nota pembayaran hotel, hostel, bungalow dll di Bali. Itulah kenapa kita give-up dengan visa tunangan dan beralih ke Schengen visa.

Setelah membulatkan tekad, mengumpulkan semua informasi dan menyusun rencana, kamipun memulai semua proses. Sambil menyiapkan dokumen-dokumen untuk pengurusan visa, saya juga mulai mengumpulkan semua surat-surat yang diperlukan untuk menikah. Saat itu, saya sering berkomunikasi dan bertanya lewat telefon atau email kepada pihak kedutaan Belgia di Jakarta mengenai syarat-syarat untuk menikah di Belgia. Dan bukan hanya itu saja, kedua orang tua dari pacar saya juga berkunjung ke citi hall di Belgia untuk menanyakan syarat-syarat dan dokumen-dokumen yang harus diberikan untuk menikah.

3 hari setelah pengajuan visa, saya pun menerima 3 bulan Schengen visa yang dikeluarkan oleh kedutaan Belanda di Jakarta. Setelah visa dikeluarkan, kami langsung membeli tiket untuk ke Belgia. Tiket yang kami beli adalah return tiket, karna mengingat di bandara kita harus menujukkan return tiket sebelum keberangkatan. Return tiket adalah bukti bahwa kita akan kembali ke Indonesia, dan saat menunjukkan Schengen visa kepada pihak imigrasi, mereka tidak bertanya panjang lebar dan mempersulit kita untuk masuk ke negara lain. 1 bulan setelah berada di Belgia tiket untuk kembali ke Indonesia kemudian kami cancel dan pihak penerbangan me-reimburse- lebih dari 50% dari biaya tiket untuk kembali. walaupun kita tidak mendapatkan 100% uang kembali, setidaknya kita tidak kehilangan semuanya. 

Setelah tiba di Belgia, besokannya saya langsung diantarkan ke kantor commune untuk melaporkan kedatangan saya. Sambil melapor, kami juga mengambil appointment untuk membicarakan rencana pernikahan kami. Syarat-syarat yang diminta oleh commune/city hall setempat adalah:

  1. Passport
  2. Pas foto
  3. Surat keterangan belum menikah
  4. Surat domisili dari Indonesia
  5. Salinan akta lahir
  6. Surat peraturan hukum pernikahan di Indonesia yang bisa didapatkan dari kedutaan Indonesia di Brussels. 
  7. Surat bukti kewarganegaraan yang juga bisa didapatkan dari kedutaan Indonesia di Brussels.
  8. ID calon suami
Untuk dokumen-dokumen nomor 3,4,5; semua harus dilegalisasi di kementrian hukum dan ham Indonesia, kemudia dilegalisasi lagi di kementrian luar negeri Indonesia, dan di kedutaan Belgia di Jakarta. Setelah semua dokumen dilegalisasi, dokumen-dokumen tersebut harus diterjemahkan oleh penerjemah tersumpah di Belgia, dan kemudian hasil terjemahannya dilegalisasi oleh tribunal Belgia. 

Untuk dokumen-dokumen nomor 6 dan 7, dapat diminta dibuatkan dalam bahasa Prancis atau bahasa yang diminta oleh commune setempat, sebelum diserahkan harus dilegalisasi oleh pihak kementrian luar negeri di Brussels. 

Saat itu, karna saya sudah berada di Belgia, saya pun menyewa agen untuk menyelesaikan semua pengurusan di Jakarta. Saat selesai, sang agen langsung mengirim semua dokumen yang diperlukan, dan kami pun mengajukan pernikahan kami ke city hall. 2 minggu setelah pengajuan, kami menerima kabar gembira bahwa semua dokumen telah lengkap dan kami diijinkan menikah. Kami pun diundang untuk datang dan menentukan tanggal pernikahan kami jadi kami menikah pada tanggal 22 Februari 2014. 

Demikianlah proses pernikahan kami. :) untuk teman-teman yang berkeinginan menikah di Belgia, kemungkinan untuk menikah tanpa fiancee visa itu ada, yang terpenting sebelum menikah adalah kita kenali dulu dengan baik siapa calon suami kita, dan apakah kita siap untuk tinggal di negeri orang, jauh terpisah dari sanak saudara. 

Rabu, 03 September 2014

Visa ke Belgia

Setelah saling mengenal selama kurang lebih 1 tahun, saya dan pacar saya memutuskan untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius. Kamipun merencanakan pernikahan. Saat itu pacar saya memutuskan ingin pulang ke Belgia, melanjutkan pekerjaan dan ingin membopong saya untuk diperkenalkan ke keluarganya, menikah dan memulai kehidupan kita sebagai keluarga kecil di Belgia. kami pun melakukan research untuk visa tunangan, tapi sayangnya setelah melihat betapa ribetnya mengurus visa tunangan, saya dan calon suami hanya bisa berkata "NOOOOOOO" (dengan tampang histeris dan rambut acak-acakan karna stress). Waktu itu saya masih sibuk kerja di pulau Dewata di sebuah restoran ternama. Jam kerja yang tidak menentu, demi mengumpulkan sekeping dua keping menambah angka di rekening demi persiapan ke Belgia, membuat saya begitu sibuk dan tidak punya banyak waktu untuk pengurusan. Ngomong-ngomong masalah ngumpulin duit, sampe di Eropa, nih ATM skali digesek bisa ngabisin 1/4 tabungn setaon, ajaib kan?

Untuk visa tunangan ke Belgia, pengurusannya adalah di Kedutaan Belgia di Jakarta, dan pengurusannya harus diajukan minimal 3 bulan sebelum keberangkatan. Setelah research, lagi-lagi kami cuman bisa taruhan gigit kuku saking setressnya, melihat komen orang-orang yang punya pengalaman mengurus visa tunangan. Pengurusannya bisa memakan waktu sampai 6 bulan, itu pun kadang ditolak katanya. Menurut mereka resiko gagal dalam pengajuan visa tunangan lebih besar dari pada visa turis. Saya aslinya Ambon, walaupun tinggal di Bali, tapi KTPnya masih Ambon, registrasi alamatnya masih Ambon, pihak yang mengeluarkan akte kelahiran saya juga catatan sipil Ambon. Kebayang kan, kalo saya harus pengurusan dokumen-dokumen antar pulau semua dari ujung ke ujung? Kota kelahiran saya di Indonesia bagian Timur dan dokumen-dokumen saya juga terbitan sana, saat itu saya tinggal dan bekerja di Indonesia bagian Tengah, dan harus ngurus visa di Indonesia bagian Barat. Lha kalo gagal, mungkin saya dan calon suami langsung daftar ke RSJ straight away udahannya. 

Namanya juga CINTRONG, ya kita tidak ingin terpisah lama-lama. Kitaaaa???? dia aja kaleeeeee!!! (sok mahal gitu.....) kita bersikeras ingin segera ke Belgia dan melakukan pernikahan di Belgia saking perasaan Cintrong-nya lagi menggebu-gebu. Setelah melakukan research lagi tentang prosedur dan persyaratan-persyaratan untuk menikah di Belgia, kami melihat bahwa ada kemungkinan kami bisa menikah di Belgia tanpa visa tunangan alias dengan visa turis. So, beralih-lah kita untuk melakukan research tentang syarat-syarat visa turis/pengunjung. 

Untuk visa turis atau kunjungan ke Belgia kita biasanya diberi Schengen visa, pengurusannya adalah di kedutaan Belanda, sama di Jakarta juga, mana bisa di Bali!! Di Bali ada juga kedutaan Belanda, tapi kalo masalah visa untuk kunjungan ke Eropa, mereka tidak ada sangkut-paut-nya. Semua harus di Jakarta. Berita baiknya adalah, asalkan semua dokumen lengkap, pengurusan visa kunjungan / turis hanya memakan waktu 3 hari kerja. cepat kan?

Setelah men-download semua formulir, melengkapi semua dokumen, saya pun berangkat ke Jakarta, dan mengajukan visa Schengen. Schengen visa itu adalah visa yang dikeluarkan oleh kedutaan besar sebagian besar negara-negara di Eropa, dan dengan visa tersebut, kita bisa memasuki hampir semua negara di Eropa. Wilayah Schengen mencakupi hampir semua negara-negara di Eropa, sepertinya hanya 3 atau 4 negara termasuk Inggris dan Romania yang tidak termasuk dalam daftar area Schengen. Biasanya Schengen visa bisa diberikan untuk jangka waktu 1-6 bulan tergantung dari permintaan dari si calon pengunjung, dan ijin dari si pihak kedutaan besar itu sendiri. 

Aaaaanny wayy... Setelah tiba di Jakarta, saya pun langsung mengatur strategi untuk pengurusan visa. Ternyata benar loh, 3 HARI KERJA MAAAAANNNN... Jaminan mutu, seperti Baygon!!! Benar-benar tepat waktu. Setelah berdebar-debar debar antri di kedutaan buat jemput pasport saya, saya tiba pada ujung antrian, dan langsung dipanggil oleh petugas. Sambil tangan agak berkeringat dingin, wajah pucat pasi, dengerin penjelasan dari petugas Kedutaan, akhirnya pasport saya diserahkan juga ke tangan saya. H2C alias Harap-harap cemas, saya pun membuka pasport saya, dan memeriksa kembali, karna gak mudeng pas petugasnya cuap-cuap. Daaaaaannn "BERHASIL! BERHASIL!" seperti kata Dora. Saya diberi 3 bulan visa Schengen. 

Saya pun berbahagia dan tentunya siapin KOPEEEERRR, jadi ke Belgia.. NIKAH.... NIKAH..... NIKAH!!!!!